Bajaj

Hari Senin siang kemarin saya pergi ke Bogor, dan berencana untuk pulang sore. Tapi ternyata realita berkata lain, saya baru keluar dari Bogor sekitar pukul 7 malam. Sesungguhnya saya ingin sekali pergi ke rumah Kias, karena teman-teman saya berkumpul disana, merayakan malam tahun baru bersama.  Tapi karena saya tidak tega ninggalin Ibu saya, jadi saya memutuskan untuk di rumah saja pada malam tahun baru (Mbak Narti sudah pulang kampung).
Selama di perjalanan menuju Jakarta, saya bimbang. Dan Idham meyakinkan untuk pergi saja ke rumah Kias, sekali-kali katanya. Sebenernya memang tidak apa-apa juga kalau saya pergi, saya akhirnya minta izin ke Ibu saya, “Jangan main kembang api, makan-makan aja” katanya. Sesunguhnya yang saya khawatirkan itu “Ibu saya kan ga bisa silat, kalau ada apa-apa bagaimana?”
Dan saya memutuskan untuk ke rumah Kias. Tapi sebelum kerumah Kias, saya harus menge-drop Idham dulu di Pasar Baru. Ah tak terpikirkan oleh saya sebelumnya bahwa bakal banyak jalan yang ditutup, saya kira hanya kawasan yang diberitakan di media saja. Jalanan sangat padat, setelah mengatarkan Idham, saya terjebak dalam kemacetan. Banyak sekali mobil, motor dan manusia yang seenaknya jalan kesana kemari yang memperparah kemacetan. Kepala ini rasanya mau meledak, saya sendirian di dalam mobil, mencari cara untuk tidak stres sendiri. Akhirnya saya mendngarkan lagu dari Ipod dengan earphone yang ternyata rusak, sedihnya.
Dan ketika saya sudah di jalan menuju Salemba (saya harus berputar jauh untuk mencapai Jakarta Selatan), sebuah pemandangan yang sangat menghibur. Ada manusia yang nemplok di belakang bajaj, seperti cicak! Pemandangan yang sangat menghibur dikala sepi yang melanda di perjalanan. Oh iya, sebelum saya mengantar Idham, saya juga melihat bajaj oranye mundur! Ini pertama kalinya saya melihat bajaj mundur secara otomatis, karena yang biasa saya lihat bajaj mundur secara manual (didorong sama supir).
kurang lebih seperti ini ilustrasi kejadiannya
Pukul 11.50 saya sampai rumah, dan tidak jadi kerumah Kias, saya sudah terlalu lelah melewati kemacetan yang luar biasa. Tidak langsung masuk rumah, namun saya tetap di dalam mobil, melihat kembang api berwarna-warni yang tetangga saya nyalakan. Sambil ditemani oleh Idham via telepon.
Malam tahun baru yang menyebalkan karena terkena macet yang membuat naik pitam. Lebih zonk daripada hanya tidur di rumah atau  hanya melihat acara di telivisi.
Selamat Tahun Baru 2013 bagi yang merayakannya.
Cheers! 🙂
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s