Can We Draw Happiness?

Kalau di kertas saya gak bisa, tapi kalau dipikiran saya bisa. Pertanyaan ini muncul mendadak beberapa menit yang lalu. Tiba-tiba saja saya ingin menggambar dan menulis blog ini, satu (atau dua) hal yang saya jarang lakukan beberapa tahun belakangan ini karena saya terlalu sibuk bahagia dengan kegiatan yang sangat menyenangkan (baca: ngurus noesa.co.id, lagi diskon lebaran loh! monggo~).

Saya sering bertanya kepada diri saya sendiri, kenapa ya kok susah banget gambar sekarang. Ujung-ujungnya saya selalu mendapati jawaban “gak tau mau gambar apa”. Saya sangat suka menggambar, menggambar adalah kegiatan yang sudah saya lakukan dari kecil. Karena saking sukanya gambar, dari kecil ibu saya selalu mengajak saya untuk lomba gambar. Ya, harusnya kalau  ngakunya suka menggambar gak ada bilang “gak tau mau buat apa” kali ya, tapi tidak dengan saya. Saat kuliah, menggambar menjadi sebuah terapi.

“Kok terapi?”

Ya, selama kurang lebih 4 tahun saya mengalami gangguan kesehatan mental yang sebut saja namanya depresi. Sebenernya saya gak tau namanya apa, karena saya tidak mendapatkan “nama penyakit” dari psikiater dan psikolog yang saya kunjungi. Saya bisa sebut depresi dari baca dari forum, artikel dan ngobrol dengan orang-orang yang (sepertinya) paham. Saat ke psikiater saya dikasih obat penyeimbang hormon dan obat penenang lainnya agar saya bisa tidur dengan pulas dan supaya saya gak mood swing dan berubah jadi zombie (gak bisa ngerasain apa-apa). Walaupun udah bayar obat mahal-mahal, pada akhirnya obat-obat itu hanya saya pajang karena saya selalu berusaha menghindari obat-obatan kimia. Dulu sering kali saya tidak beranjak dari tempat tidur (bukan karena malas). Dan terkadang pada malam hari saya tidak bisa tidur gara-gara saya ingin mati (tapi takut) atau kata “mati” nge-loop di otak saya (sampe saya tepar kecapean karena kebanyakan mikirin mati) atau saya melihat laba-laba besar atau saya melihat bayangan hitam dan hal lainnya yang membuat saya tidak bisa tidur dan menangis karena takut. Dan bukan, itu bukan hantu.

tumblr_mfleg6lg8o1s1w6cjo1_500

Saya menjadi seperti itu karena saat itu saya hancur sehancur-hancurnya hancur. Orang tua saya bercerai, suatu momen yang saya tidak pernah sangka-sangka. Dan semenjak saat itulah saya menjadikan menggambar sebagai sebuah terapi. Menggambar adalah sebuah pelarian. Menggambar merupakan sebuah ungkapan amarah, kesedihan, kehancuran dan harapan. Menggambar adalah teman. Dengan menggambar saya bisa sedikit meluruskan pikiran negatif yang sering muncul, membatalkan rencana saya untuk bunuh diri. Ya, saat itu pikiran untuk bunuh diri terlalu sering muncul dan tidak ada yang tau saya saat itu (karena saya baru cerita keadaan tersebut saat saya pacaran dengan my forever boyfriend a.k.a husband, Idham). Saya gak mau cerita karena saya gak mau dibilang “lebay” atau “drama” atau tidak percaya dengan apa yang saya alami pada saat itu, Tapi keadaan saat itu beneran terjadi, itu bukan sedih, berbeda dengan sedih, saya tau rasanya sedih. Rasanya saat itu flat, jiwa saya seperti diambil sama Dementor.

tumblr_n6jezki9jg1s1w6cjo1_540

Untungnya saya memajang obat dari psikiater dikamar saya. Selain menggambar, obat itu juga yang menjadikan penyemangat saya untuk “selamat” dari keadaan tersebut. Idham juga sangat berjasa dalam kesembuhan saya, dia mau mendengar, mau mengerti kalau saya tiba-tiba jadi “zombie” dan mau menerima keadaan saya yang seperti itu. Mungkin kalau saya jadi dia, pacar saya udah saya tinggalin karena menjengkelkan.

Saat ini saya sudah “selamat” dari keadaan yang sangat tidak enak tersebut, walaupun terkadang masih suka muncul tiba-tina (samgat jarang), namun saya sudah tau cara menghadapinya, saya sudah lebih kenal dengan diri saya. Saat ini saya sedang mencoba kembali untuk menggambar, namun bukan menggambar untuk terapi, menggambar untuk mengisi waktu luang (yang mudah-mudahan ada).

tumblr_n6je5srw6a1s1w6cjo1_540

Saya bisa sembuh. Saya bisa selamat. Saya masih hidup. Saya bahagia. Dan saya yakin kamu juga bisa.

So, can I draw happiness? Yes, I can!

PS: Untuk yang memiliki teman, saudara atau kerabat yang pernah bercerita hal yang serupa dengan saya (jadi zombie, capek sama hidup, suicidal thought), temani mereka, karena apa yang mereka rasakan dan cerita itu adalah nyata. Jadilah care giver yang baik. Karena keberadaan kamu sangat berarti untuk mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s